PENEGAKKAN SYARIAT ISLAM DALAM KERANGKA NEGARABANGSA: UTOPIS ATAU REALISTIS?

Ilyas Yasin

Abstract


Lebih dari sekadar sistem etis maupun teologis Islam diyakini penganutnya sebagai sebuah sistem
kehidupan yang lengkap, termasuk mengatur kehidupan bernegara. Islam adalah din wa daulah (agama
sekaligus negara). Keyakinan tersebut melahirkan dinamika dan proses pencarian konsep mengenai relasi
Islam dan negara. Hal itu tidak semata karena tersedianya landasan teologis tapi gagasan „Negara Islam‟
juga memiliki basis legitimasi historis dalam kehidupan empiris kehidupan kaum muslim. Krisis yang
timbul di dunia muslim maupun ancaman nilai-nilai Barat yang sekularistik dan materialistik telah
mendorong lahirnya kerinduan terhadap narasi dan fantasi kehidupan ideal tersebut. Selain melacak akarakar
historis
mengenai
pencarian
konsep
dan
pergulatan
wacana
„Negara
Islam‟,

tulisan
ini
juga

merekam
berbagai
ketegangan
konseptual
maupun
empiris
tentang

gagasan
penerapan
„Syariat
Islam‟
--salah
satu
varian
isu
Negara
Islam---melalui
Perda
Syariat
di
sejumlah
daerah

sejak
era
otonomi
daerah.

Di
bagian
akhir
dipaparkan
mengenai
prospek
dan
implikasi
penerapan
Syariat
Islam
bagi

kehidupan

kebangsaan
dan
demokrasi.



Kata
kunci:
Syariat
Islam,
otonomi
daerah,
demokrasi.

Full Text:

PDF

References


Abdullah, Irwan. (2009). Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Abdullah, Taufik (ed). (1983). “Kata Pengantar” Agama dan Perubahan Sosial. Jakarta:

Rajawali.

Akh. Minhaji. (1994). “Hak-hak Asasi Manusia Dalam Hukum Islam: Penafsiran Baru tentang

Posisi Minoritas Non-Muslim”, Jurnal Ulumul Quran No. 2, Vol. V.

Azra, Azyumardi. (2005). “Islam in South East Asia: Tolerance and Radicalism”. Paper

Presented at Miegunyah Public Lecture The University of Melbourne, 6 April.

---------------------,(1993). “Islam dan Negara: Eksperimen Dalam Masa Modern, Tinjauan

Historis”, Jurnal Ulumul Quran No. 2 Vol. IV.

Fauzan, Pepen Irpan. (2007). “Revivalisme Politik Islam: Akar -Tradisi, Latar Belakang, dan

Kecenderungan Baru”, Jurnal Tajdid No. 1. Bandung: PP Pemuda Persis.

Hassan, Noorhaidi. (2008). “Reformasi, Religious Diversity and Islamic Radicalism After

Soeharto”, Journal of Indonesian Social Science and Humanities, Volume One.

Jakarta: LIPI-KITLV.

Jamil, M. Muhsin. (2005). Membongkar Mitos Menegakkan Nalar: Pergulatan Islam Liberal

Versus Islam Literal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar-ILHAM Semarang.

Kleden, Paul Budi. (2010). “Indonesia yang Demokratis Rumah Bagi Semua” dalam

Bertholomeus Bolong OCD (ed.). Formalisasi Syariat Islam di Indonesia: Perspektif

Kristiani. Yogyakarta: Amara Books.

Lewis, Bernard. (1994). Bahasa Politik Islam. Terj. Ihsan Ali-Fauzi. Jakarta: Gramedia.

Madjid, Nurcholish. (1995). “Dar al-Islam dan Dar al-Harb: Damai dan Perang dalam Islam”,

Jurnal Ulumul Quran No. 2, Vol. VI.

Manalu, Dimpos. (2009). Gerakan Sosial dan Perubahan Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gadjah

Mada University Press-KSPPM.




DOI: http://dx.doi.org/10.33477/dj.v13i2.1812

 SELAMAT BERKUNJUNG DI DIALEKTIKA